Para santri diajar berbagai ketrampilan sebagai muatan dari Program P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila): membuat kueh, memasak nasi goreng, nasi santan, nasi goreng, membuat lemang ketan dll. Hal ini perlu ditindak lanjuti dengan sisi bisnisnya, misalnya dijual kepada sesama santri, bapak ibu guru, sebagai suguhan rapat atau suguhan tamu pondok. Manfaatnya adalah menanamkan jiwa wirausaha di kalangan santri.
Menjalankan usaha tidak ada jaminan selalu sukses. Meski memiliki modal besar, lokasi strategis, penataan barang bagus, seorang pengusaha tetap diuji dengan jatuh bangun dalam berusaha. Untuk itu diperlukan segudang pengalaman dalam menjalankan usaha dan itu bisa dimulai saat menjadi santri pondok.
Ir. HM. Muhammad Haitami, pembina Pesantren Babussalam saat memberikan amanat pada upacara bendera Senin 4 Mei 2026 mengingatkan sebuah istilah yang dimunculkan mantan Presiden BJ. Habibie yaitu nilai tambah atau “added value” dalam bahasa Inggris-nya. Sebatang besi dengan berat 1 kg paling hanya dihargai Rp. 20.000,- Namun jika besi tersebut adalah bagian dari sebuah pesawat terbang harganya akan menjadi jutaan Rupiah.
Kab. Kep. Selayar memiliki banyak kekayaan alam seperti berbagai jenis ikan dan udang, kelapa, cengkeh, jeruk, jambu mete, kenari, kemiri, kayu secang dll. Permasalahannya adalah memberikan nilai tambah pada berbagai hasil alam tersebut karena tersebar di berbagai pulau sehingga perlu biaya tinggi dalam hal pengangkutan.
Misal diadakan pabrik minyak kelapa. Untuk ukuran sebuah pulau kelapa yang tersedia masih dibawah kapasitas mesin sehingga mesin akan menganggur dan akhirnya rusak. Jika harus didatangkan kelapa dari pulau lain maka akan menaikkan biasa operasional. Sebagai gambaran kapal tanker BBM berkapasitas 600.000 liter tidak bisa difungsikan secara maksimal karena kebutuhan masyarakat hanya 400.000 liter.
Disisi lain saat harga kelapa jatuh maka banyak kelapa yang tidak dipanen. Jadi diperlukan kajian komprehensif untuk pemberian nilai tambah pada produk hasil bumi Selayar. Pertama harus ada kemauan keras dari Pemerintah untuk mengadakan unit-unit mesin yang akan memberikan nilai tambah produk lokal seperti ikan, kelapa, jambu mente, kemiri dll. Selanjutnya market diarahkan untuk luar Selayar mengingat penduduk Selayar hanya sekitar 130.000 jiwa.
Untuk itu diperlukan pemuda yang siap memajukan daerahnya mengolah hasil alam Selayar menjadi produk jadi atau setengah jadi. Disamping harus memiliki ketrampilan memadai juga harus memiliki jiwa wirausaha yang handal.




