Setiap tahun Babussalam mengirimkan santri bertugas khutbah Idul Fitri dan Idul Adha di berbagai tempat di Selayar, baik di daratan maupun kepulauan. Pada Idul Adha 1447 H tahun ini Babussalam mengirimkan khatib diantaranya Andi Arsanjuran di Unjuruiya Bontomatekne dan Agil Purnama di Dopa Bontoharu.
Berkenaan dengan tugas dakwah ini problema santri yang ditugaskan adalah HP dan motor karena mereka tidak boleh membawanya ke pondok.
Sebagai pembina pondok tentu saja saya memonitor hal ini. Untuk masalah HP saya sampaikan kepada panitia setempat agar memanfaatkan nomor kontak saya. Sedangkan untuk motor saya bisa pinjam dari pembina yang lain.
Satu lagi, naskah khutbah saya siapkan dan untuk kali ini sejak 2 pekan sebelumnya dengan judul “Belajar Tauhid pada Keluarga Nabi Ibrahim”. Harapan saya cukup dengan membaca naskah khutbah saja tugas tersebut dapat dilaksanakan.
Sehari sebelum Idul Adha saya mencari-cari Andi Arsanjuran namun tidak ada. Saya tanyakan kepada beberapa temannya namun juga tidak tahu sampai akhirnya saya sendiri berangkat ke Bontobuki untuk persiapan khutbah.
Barulah saat saya singgah di rumah orang tua Arya Pratama saya mendapat kabar kalau Andi Arsanjuran sudah berangkat ke Unjuruiya yang jaraknya 55 km dari pondok. “Naik apa?”, tanya saya karena sebelumnya saya berjanji meminjamkan motor.
“Naik motor, Abi”, kata Arya.
“Motor siapa?” tanya saya lagi.
“Beli baru, dibelikan tantenya”, kata Arya.
Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendapati hal ini. Luar biasa dorongan orang tua dan walinya. Mereka bangga bahwasanya anaknya diberi kepercayaan pondok untuk melaksanakan tugas dakwah. Untuk tugas sekelas mengisi khutbah Idul Adha saja mau berkorban membeli motor baru seharga 18,5 juta.














