Agama  

MENELADANI TAUHID KELUARGA NABI IBRAHIM

Tauhid yang bercampur dengan isme-isme lain melahirkan syirik.

banner 120x600

Tauhid adalah meng-esa-kan Tuhan. Meng-esa-kan artinya tidak menduakan, mentigakan atau mensepuluhkan Tuhan dengan yang lain. Tauhid adalah tidak menyandingkan Tuhan dengan sekutunya. Maknanya, jika Allah telah memerintahkan maka laksanakan. Sebaliknya jika Allah melarang maka tinggalkanlah. Tanpa tapi dan tanpa nanti.

 

Itulah pokok khutbah Jum’at, 1 Mei 2026 yang disampaikan Ir. HM. Haitami, pembina Pesantren Babussalam dihadapan jamaah shalat Jum’at Masjid Agung Al Umarain Kota Benteng Selayar. Selanjutnya khatib memberikan contoh tauhid Nabi Ibrahim dan keluarganya sebagai bahan pembelajaran.

 

Ibrahim mendapat perintah Allah Swt lewat mimpi dan perintahNya tidak main-main yaitu menyembelih anaknya Ismail. Hal ini disebutkan dalam Qs. Ash Shaffat (37): 102 yang terjemahannya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

 

Bagaimana tanggapan Ismail? Dia hanya perlu tahu apakah perintah itu benar dari Allah. Saat tahu bahwa itu benar dari Allah maka ia pun berkata: kerjakan wahai ayahku, semoga aku tergolong orang yang sabar.

 

Demikian juga sikap Siti Hajar saat mengetahui Ibrahim diperintahkan Allah untuk hijrah ke Palestina meninggalkan dirinya beserta anaknya Ismail di Makkah yang tandus dan tidak ada sumber kehidupan. Hajar hanya bertanya, “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?

 

Setelah tahu bahwa itu adalah benar-benar perintah Allah maka Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.

 

Bandingkan tauhid Ibrahim dengan kebanyakan dari kita saat ini? Terkadang kita berfikir seribu kali untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Kita cari berbagai alasan padahal jelas itu adalah perintah Allah.

 

Misalnya saat melamar pekerjaan dimana sudah jamak adanya suap menyuap. Dengan alasan bahwa hal itu tidak bisa dihindari maka kita tutup mata saja tetap melakukannya. Ada lagi alasan pembenar: kalau tidak begitu akan lebih rusak lagi karena orang lain yang diterima.

 

Contoh lain dalam hal bunga perbankan. Ada yang dengan mantap menyatakan itu sebagai riba dan kemudian meninggalkannya. Dia berprinsip pasti akan ada jalan rezeki yang lain dari Allah. Sedangkan sebagian lain menganggap sebagai kerjasama antara bank dan nasabah sehingga menganggap bunga bank sebagai keuntungan usaha perbankan.

 

Disinilah diperlukan bimbingan dan panduan dari organisasi Islam sehingga ummat mendapat kejelasan terhadap suatu masalah. Adanya berbagai isme (materialisme, kapitalisme, humanisme, sekularisme, feminisme dll) menunjukkan melencengnya sikap tauhid. Keimanan kepada Allah harus disinergikan dengan berbagai ajaran lain yang mana berarti mempersekutukan Allah. Inilah yang akan melahirkan syirik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *