Pagi itu Kapal Maloli sedang dalam pelayaran dari Makassar menuju Kota Benteng Selayar. Kapal penuh oleh penumpang dan muatan barang. Banyak penumpang tujuan Maumere yang sengaja berbelanja di Makassar barang-barang keperluan pribadi maupun perdagangan.
Seorang penumpang bisa saja membawa belanjaan berupa lemari baju, tempat tidur hingga sepeda listrik. Ada lagi yang berbelanja untuk kebutuhan toko kelontongnya hingga lebih dari 10 karung. ABK kapal sampai mendata penumpang dengan bawaan barang sangat banyak namun saya tidak mengetahui berapa bayaran yang dikenakan.
Udara cerah dan matahari bersinar terang sehingga suasana di dalam kapal cukup panas dan banyak penumpang yang duduk-duduk di dek luar yang beratapkan langit. Seorang bapak berkacamata yang saya perkirakan umurnya sekitar 70 tahun menyapa saya dalam bahasa Selayar.
Tentu saja saya tidak mengerti maksudnya dan saya sampaikan permohonan maaf karena saya bukan berasal dari Selayar. Akhirnya pembicaraan pun berganti dengan bahasa Indonesia. Beliau mengenalkan diri namanya Saparudin tinggal di Tanabau Selayar yang baru saja mengunjungi anaknya di Makassar.
Saya merasa tersanjung karena lebih dahulu disapa, mungkin melihat saya yang sepertinya bukan orang Selayar, bukan juga Maumere, tujuan akhir kapal Maloli. Saya pun memperkenalkan diri sebagai orang yang berasal dari Bandung, menuju Selayar untuk mengabdi di Babussalam Selayar.
“Babussalam? Pak Kyai Muchtar Adam? Saya masih ada hubungan saudara, satu kampung di Palemba”, jelas Pak Saparudin.
Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu karena riuh oleh suara penumpang, suara mesin kapal hingga deru ombak perairan Selayar. Beliau minta saya mengunjungi rumahnya di Tanabau sesampai di Selayar nanti.
Rupanya kesibukan di Babussalam melupakan saya pada Pak Saparudin hingga ada yang mengabarkan adanya kiriman pisang dari Pak Saparudin. Masya Allah, rupanya beliau benar-benar orang yang baik hati dan pemurah. Saya tunggu pisang sebesar lengan saya itu masak satu persatu. Ada yang langsung saya makan, atau diberikan kepada santri.
Belum sempat juga mengunjungi rumah beliau datang lagi kiriman keripik pisang melalui guru Babussalam yang ternyata kemenakannya. “Ini kode keras”, kata saya.
Akhirnya saya sempatkan shalat berjamaah dhuhur di Masjid Nurul Iman Tanabau. Maksud hati ingin bertanya kepada jamaah dimana rumah Pak Saparudin.
Ternyata beliau jamaah aktif masjid itu dan lebih dahulu menyapa saya. Selepas dari masjid saya diajak makan siang di rumahnya berjarak 100 meter sebelah barat masjid.
“Usia saya sudah 82 tahun”, kata beliau. Ahai…. dugaan saya salah, saya kira baru sekitar 70-an karena terlihat belum terlalu tua dan masih gesit.




