Orangnya ramah, fisiknya sehat dan matanya awas. Itulah kakek Saparudin warga Tanabau yang saya ceritakan pada tulisan lalu. Setiap kali shalat berjamaah di Masjid Nurul Iman Tanabau selalu beliau yang terlebih dahulu menyapa saya. Juga memberi kode agar setelah shalat berjamaah bertandang ke rumahnya yang hanya 100 meter di sebelah barat masjid.
Dalam sebuah obrolan beliau ceritakan anaknya yang 5 orang dan tersebar di beberapa kota. Cucunya 12 orang. Ada seorang anaknya yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar yang akan memberangkatkan umrah setelah musim haji tahun ini, ada juga yang tinggal di Sudiang Makassar berdekatan dengan tempat kerjanya Bandara Hasanuddin. Awal bulan April 2026 ini beliau baru saja menikahkan cucunya yang ke-2.
Pak Saparudin tergolong multitalenta, memiliki banyak keahlian. Rumah yang ditempati hingga saat ini adalah hasil karyanya saat memulai berumah tangga. Saat ini ketika anak-anaknya sudah jadi dan tersebar di berbagai tempat, ia masih mengolah kebun yang diantara isinya 400 pohon kelapa dan 800 pohon pisang. Semuanya ini menunjukkan ketrampilannya mengusahakan keuangan keluarga.
Di usia senja 82 tahun ia tinggal menikmati sisa usia pemberian Allah Swt dengan banyak beribadah. Masjid Nurul Iman hanya berjarak 100 meter dari rumahnya sehingga tidak menjadi hambatan dalam merutinkan shalat berjamaah. Satu lagi ketrampilan beliau adalah menyembelih sapi yang bermanfaat saat ibadah qurban, biasanya di 3-5 tempat.
Kejadian lucu saat awal bulan ini menikahkan cucunya dimana undangan lebih dari 1000 orang. Pohon pisang yang dia tanam tidak sedang musim berbuah, apalagi banyak pohon yang roboh karena kencangnya angin. Jadilah pisang yang dihidangkan untuk hidangan para tamu dibeli dari pasar-pasar di kota Benteng.




