Sebanyak 15 santri Babussalam hadir menyemarakkan Gerakan Ahad Shalat Subuh (GASS) yang digagas PDM Selayar, Ahad 31/05/2026 kali ini mengambil tempat di Masjid Nurul Yaqin Bonehalang. Bagi PDM Selayar ini adalah acara rutin dalam rangka menggerakkan masyarakat untuk berjamaah shalat subuh, khususnya di sekitar masjid yang ditempati.
Ir. HM. Haitami, Pembina Babussalam menjelaskan program GASS ini sejalan dengan rutinitas di Babussalam. Santri Babussalam setiap hari wajib bangun subuh, bahkan sepekan 2x bangun shalat tahajud dan makan sahur untuk puasa sunat Senin Kamis.
Dengan adanya “Safari Subuh” ini santri semangat bangun subuh tanpa harus digebrak atau bahkan disiram air. Bagi seorang santri di pondok pada umumnya rutinitas bangun subuh ini tidak bisa ditawar lagi. Bangun subuh bagi seorang pejuang Islam adalah tanda kesiapannya dalam berjuang. Bagaimana hendak diajak berperang jika untuk bangun subuh saja tidak mau.
Allah Swt menjanjikan kemuliaan bagi hambaNya yang mau bangun malam dan mengerjakan shalat tahajjud. Kemuliaan itu bukan saja di akhirat nanti, bahkan sejak masih di dunia yaitu kemuliaan dalam rumah tangga, pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat.
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji,” Qs. Al Isra’ (17): 79.
Ust. H. Saiful Arif, SH. yang memberikan ceramah mengatakan tasyrik dari kata syaraka, yusyriku, tasyrikan yang artinya menjemur. Pada saat itu belum ada kulkas untuk menyimpan daging qurban sehingga dijemur agar awet. Salah satu problematika hari tasyrik khususnya tanggal 13 Dzulhijjah adalah bersamaan dengan kebiasaan puasa yaumul bidh (hari-hari putih tanggal 13, 14, 15 hijriyah).
Berdasar kaidah ushul fiqh “Dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” menegaskan bahwa menghindari bahaya (mudharat) lebih diutamakan daripada meraih manfaat. Untuk itu khusus tanggal 13 Dzulhijjah tidak puasa karena adanya larangan puasa di hari tasyrik.














