Agama  

Ceramah Tarawih: Jangan Kufur Nikmat, Azab Allah Amat Pedih

Allah menyandingkan syukur nikmat dan kufur nikmat. Jika seseorang pandai mensyukuri nikmatNya maka Dia akan menambah-nambah nikmat itu. Sebaliknya, jika seseorang kufur nikmat maka azab Allah itu amat keras.

banner 120x600

Salah satu ajaran pokok dalam Islam adalah “syukur”. Mengutip pendapat Prof. Quraish Shihab, syukur adalah mendaya gunakan segenap potensi dengan maksimal. Dengan pengertian ini maka makna syukur ini amatlah luas. Misalkan Allah mengaruniakan badan yang sehat maka tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Jika Allah memberikan rezeki berupa harta yang banyak maka menjadi kewajiban baginya untuk banyak bersedekah.

 

Demikian intisari dari ceramah tarawih yang disampaikan Ir. HM. Haitami, pengasuh Pesantren Babussalam di Masjid Baitul Makmur Jl. Ahmad Yani Sabtu (21/02) malam ini. Ayat yang disitir adalah Qs. Ibrahim (14): 7, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu) sesungguhnya azabKu benar-benar sangat keras”.

 

Penceramah juga menyinggung karunia Allah berupa pancaindera seperti mata, telinga, hidung, mulut hingga kaki dan tangan. Saat bangun tidur subuh dalam keadaan sehat wal afiat maka tidak ada alasan untuk tidak pergi ke masjid menunaikan shalat berjamaah. Dikaruniai mata yang dapat melihat, telinga yang bisa mendengar, maka harus digunakan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin.

 

Jika seseorang pandai bersyukur maka Dia akan menambah nikmatNya. Sebaliknya jika menyia-nyiakan karunia Allah itulah yang disebut kufur nikmat. Bagi orang yang kufur nikmat, ingatlah bahwa azab Allah itu amatlah keras.

 

Misalkan ada seseorang yang memerlukan bantuan dan kita dengan sengaja tidak membantunya dengan berbagai alasan. Inilah yang disebut kufur nikmat. Ternyata setelah itu Allah mendatangkan musibah yang menimbulkan kerugian sangat besar. Padahal bantuan yang diperlukan orang tadi sangat kecil dibanding kerugian yang timbul akibat musibah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *