Hasil bumi Selayar berupa kelapa belum dimanfaatkan secara maksimal. Semua komponen kelapa memiliki nilai jual tinggi asalkan dilakukan pengolahan. Daging kelapanya dibuat minyak, air kelapanya dibuat nata de coco, batoknya dibuat arang, sabutnya dijadikan tali dsb.
Dalam perbincangan menjelang buka puasa di Masjid Nurul Iman Dusun Tanabau Bontotangnga Bontoharu Selasa (03/03) Bupati Kep. Selayar HM. Natsir Ali berpesan kepada Ir. HM. Haitami, Pembina Pesantren Babussalam agar santri diberdayakan untuk mengolah sabut kelapa menjadi berbagai produk.
Sabut kelapa adalah limbah organik serbaguna dengan manfaat utama sebagai media tanam (kokopit/cocopeat) yang mampu menahan air, bahan organik pupuk kaya kalium, mulsa organik untuk menjaga kelembapan tanah, serta bahan baku kerajinan tangan, keset, dan isian kasur. Sabut kelapa sangat efektif memperbaiki struktur tanah dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Sementara itu Wakil Bupati Drs. H. Muhtar, MM. mengapresiasi kegiatan “Muballigh Hijrah” yang dilakukan Babussalam setiap Ramadhan. Sebagaimana diketahui pada Ramadhan 1447 ini Babussalam menerjunkan 90 santrinya untuk berdakwah di Kec. Bontomatene, meliputi 10 kelompok di 4 desa. Kegiatan Muballigh Hijrah ini berlangsung selama 9 hari (23/02 – 03/03) dengan sukses dan ditutup oleh Bupati HM. Natsir Ali pada Ahad (01/03) malam.
Wakil Bupati berharap kegiatan Muballigh Hijrah ini diperluas jangkauan tempatnya karena terbukti banyak memberikan manfaat. Fakta di lapangan memperlihatkan masyarakat menyambut antusias kedatangan santri-santri Babussalam ini. Disisi lain jumlah santri terbatas dan perlu dilakukan persiapan lebih matang sehingga santri lebih produktif selama berada di lokasi Muballigh Hijrah.










