Pada umumnya kaum muslimin memahami adanya 3 amalan yang tidak putus pahalanya meskipun seseorang telah meninggal dunia, sebagaiman disebutkan dalam hadits yang terkenal, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

KH. Muchtar Adam, pendiri Pesantren Babussalam dalam bukunya berjudul “40 Sihir Halal” mengemukakan hadits lain yang senada namun disitu disebutkan adanya 7 amalan, bukan 3, sebagaimana pemahaman kaum muslimin selama ini.
Hadits tersebut berbunyi, “Tujuh macam akan mengalir pahalanya kepada setiap manusia didalam kuburannya sesudah wafatnya, yaitu: 1. Seseorang yang mengajarkan ilmunya.2. Orang yang membangun pengairan untuk kepentingan umum. 3. Orang yang membangun sumur untuk kepentingan umum. 4. Orang yang menanam kurma/buah-buahan. 5. Orang yang membangun masjid. 6. Orang yang mewariskan/mewakafkan mushhaf al-Qur ân. 7. Orang yang meninggalkan anak yang senantiasa mendoakannya sesudah wafatnya”, Hr. Bazzar, Abu Na’im dan Baihaqi.
Dalam hadits ini telah tercakup 3 amalan yang umum ketahui. Shadaqah jariyah adalah sebuah pengertian umum karena bisa dilakukan dengah harta, tenaga, waktu atau pemikiran. Membangun pengairan, membuat sumur, adalah shadaqah bukan saja dengan harta, namun sekaligus mewujudkannya dalam bentuk nyata untuk sebanyak-banyaknya kemaslahatan ummat.
Menanam pohon/buah-buahan menjadikan mengalirnya pahala kepada pelakunya karena memberi manfaat bagi orang lain. Dalam hadits yang lain pahala menanam pohon ini tetap ada meski buahnya dimakan burung atau dicuri orang. Sedangkan orang yang membangun masjid dan membagian mushaf Al Quran adalah orang yang menghidupkan agama. Lewat mereka lah syiar Islam terus terjaga.
Hadits ini juga menjadi bahan motivasi untuk mendidik generasi muda belajar beramal shalih dan cinta pada agamanya. Bahwa sebuah amal shalih betapa pun kecilnya akan terus mengalirkan pahala bahkan hingga pelakunya dipanggil menghadap Allah Swt.
Ir. H. Muhammad Haitami, pembina Pesantren Babussalam, sering membawakan hadits ini sebagai bahan ceramah agama saat mengisi khataman Al Quran di rumah yang sedang ditimpa musibah kematian. Setiap pekan undangan pengajian khataman Al Quran yang diterima oleh santri dan asatidz Babussalam mencapai 3-4 kali, diikuti 15-30 orang.














